Mimpi Arsenal meraih gelar Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub kandas secara tragis di Puskás Aréna, Budapest.
Arsenal takluk dari Paris Saint-Germain melalui adu penalti dengan skor 4-3, setelah pertandingan berakhir imbang 1-1 dalam 120 menit.
Momen paling menyayat hati datang ketika bek tengah andalan Arsenal asal Brasil, Gabriel Magalhães, menjadi tokoh naas malam itu.
Gabriel tampil sebagai penendang penalti kelima Arsenal. Dalam situasi yang mengharuskan Arsenal mencetak gol untuk tetap hidup, Gabriel kehilangan ketenangan dan mengirimkan bola jauh melampaui mistar gawang ke langit Budapest.
Kegagalan itu langsung menghadiahkan gelar Liga Champions back-to-back kepada PSG, menjadikan mereka klub kedua di era modern yang berhasil mempertahankan trofi bergengsi tersebut.
Performa Luar Biasa, Namun Berakhir Pahit
Ironi malam itu terasa sangat mendalam. Sepanjang 120 menit pertandingan, Gabriel tampil hampir sempurna, mencatatkan 13 sapuan, tidak kalah dalam satu pun duel darat maupun udara, dan tidak sekalipun dilewati lawan.
Namun semua itu sirna dalam sebuah tendangan yang melenceng.
Setelah gagal, Gabriel langsung menangis, namun segera dihibur oleh sesama pemain Brasil, kapten PSG Marquinhos, yang sempat meninggalkan selebrasi juara demi mendampingi rekan setimnya di timnas Brasil, yang Piala Dunia-nya tinggal dua pekan lagi.
Jalannya Pertandingan
Arsenal memulai laga dengan sempurna. Kai Havertz membuka keunggulan hanya enam menit setelah pertandingan dimulai dengan tendangan tenang melewati kiper Matvey Safonov.
Namun di babak adu penalti, bukan hanya Gabriel yang gagal. Eberechi Eze juga gagal mengeksekusi penaltinya lebih awal, sehingga Arsenal tidak punya ruang untuk kesalahan lagi saat giliran Gabriel tiba. Declan Rice, Gabriel Martinelli, dan Viktor Gyökeres berhasil menjalankan tugas mereka dengan baik, tapi itu tidak cukup.
Dukungan untuk Gabriel
Legenda Arsenal, Martin Keown, langsung membela sang bek usai laga. “Dia tidak perlu malu atas apa pun yang dilakukannya malam ini. Dia punya keberanian untuk maju menendang, memang gagal, tapi dia luar biasa dalam pertandingan ini,” kata Keown di hadapan kamera televisi.
Musim yang Tetap Bersejarah
Meski kandas di final, Arsenal tetap bisa berbangga atas musim yang luar biasa di bawah Mikel Arteta yang mengakhiri penantian 22 tahun untuk meraih gelar Premier League, dengan selisih tujuh poin atas Manchester City.
Namun gelar Liga Champions, satu-satunya mahkota besar yang belum pernah diraih Arsenal, kembali harus ditunda.
Dan malam di Budapest ini akan lama dikenang, baik sebagai musim terbaik Arsenal dalam dua dekade, maupun sebagai salah satu momen paling menyakitkan dalam sejarah klub.

