Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, dipastikan batal memimpin pertandingan di Piala Dunia 2026 setelah otoritas Amerika Serikat menolak memberikan izin masuk kepadanya. Keputusan tersebut memicu kritik keras terhadap FIFA yang dianggap gagal melindungi perangkat pertandingan pilihannya sendiri.
Bagi Omar Artan, Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen bersejarah, ia berpeluang menjadi wasit pertama asal Somalia yang memimpin pertandingan di turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. Namun mimpi itu harus berakhir sebelum sempat dimulai.
Somalia termasuk dalam daftar negara yang terkena kebijakan larangan perjalanan pemerintahan Presiden Donald Trump, dan Artan ditolak masuk setibanya di Miami meski berstatus perangkat pertandingan resmi FIFA.
Alasan Penolakan: “Kekhawatiran Keamanan”
U.S. Customs and Border Protection (CBP) atau Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat menyebut Artan ditolak masuk karena adanya “kekhawatiran dalam proses pemeriksaan keamanan” atau vetting concerns.
Menanggapi situasi ini, FIFA menyatakan tidak bisa ikut campur dalam proses imigrasi negara tuan rumah dan menyerahkan keputusan kepada pemerintah AS. “FIFA tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah, termasuk penentuan visa, dan telah diberitahu oleh pihak berwenang bahwa status Artan tidak akan diubah saat ini,” demikian pernyataan resmi FIFA.
Desakan Ganti Rugi: Rp1,7 Miliar
Salah satu yang paling keras menyuarakan kritik terhadap FIFA adalah mantan kepala Professional Game Match Officials Limited (PGMOL), Keith Hackett. Ia mendesak FIFA untuk memberikan kompensasi finansial kepada Artan atas kerugian yang dialaminya, menyebut bahwa seorang wasit yang bertugas di Piala Dunia berpotensi memperoleh pendapatan sekitar 100 ribu dolar AS atau setara Rp1,7 miliar selama turnamen berlangsung.
“Ini terasa sangat tidak adil. Seorang wasit muda kehilangan kesempatan untuk memimpin pertandingan di Piala Dunia,” ujar Hackett. “Jalur menuju level elite sangat sulit. Dia telah bekerja keras sepanjang kariernya, melewati berbagai tantangan, hingga akhirnya mencapai standar tertinggi. Saya berharap FIFA memberikan pembayaran khusus sebesar 100 ribu dolar AS kepada dirinya dan keluarganya sebagai bentuk tanggung jawab,” tegasnya.
Komunitas Wasit Dunia Geram
Kritik tidak hanya datang dari Hackett. Mantan wasit FIFA, Christina Unkel, mengaku sangat kecewa dengan perlakuan yang diterima Artan. Perempuan yang bertugas sebagai analis wasit selama Piala Dunia itu menyebut kabar yang menimpa Omar Artan menyebar dengan cepat di kalangan perangkat pertandingan yang sedang mengikuti pemusatan latihan di Miami.
“Saya benar-benar muak mendengarnya. Informasi itu langsung beredar di komunitas wasit,” kata Unkel. “Dia bukan ditolak karena kesalahan yang pernah dilakukan atau rekam jejak buruk. Dia hanya terkena stereotip karena negara asalnya. Ini bukan Piala Dunia jika dunia tidak diizinkan datang,” tegasnya.
Bukan Hanya Omar Artan
Kasus ini bukan yang pertama mencuat jelang Piala Dunia 2026. Sebelumnya, perlakuan aparat AS terhadap delegasi dan tim nasional dari beberapa negara juga sempat viral dan menuai kecaman luas dari komunitas sepak bola internasional, memperkuat kekhawatiran soal dampak kebijakan imigrasi AS terhadap pelaksanaan turnamen yang seharusnya merayakan persatuan dunia tersebut.

