Setelah musim 2025 yang mengecewakan, tanpa satu pun kemenangan, finish keempat di klasemen konstruktor, dan Lewis Hamilton yang menutup musim perdananya di Maranello tanpa podium Ferrari memasuki era regulasi 2026 dengan tekad berbeda. Hasilnya?
Meski belum mencapai level dominan Mercedes, Scuderia Ferrari tampil jauh lebih kompetitif, menjadi ancaman nyata nomor dua di grid, dan akhirnya merayakan kemenangan pertama musim ini melalui Lewis Hamilton di Grand Prix Spanyol, Barcelona.
Pertanyaannya: apa yang berubah? Jawabannya tidak sesederhana “mobil baru = lebih cepat.” Ada transformasi organisasional, pergantian otak teknis, dan yang menarik untuk dibahas transfer budaya menang dari program WEC Ferrari yang sedang di puncak kejayaannya.
Regulasi 2026: Babak Baru yang Menguntungkan Ferrari
Musim 2026 menandai perubahan regulasi teknis terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Formula 1. Mobil-mobil kini menggunakan sistem aero aktif (active aerodynamics) dan power unit hibrida generasi baru. Perubahan ini membalik urutan kompetitif secara dramatis.
McLaren yang mendominasi kualifikasi sepanjang 2025 tiba-tiba bukan lagi yang tercepat. Red Bull pun tergeser. Sebaliknya, Mercedes muncul sebagai kekuatan tertinggi dengan meraih semua pole position di awal musim, sementara Ferrari mengisi slot sebagai ancaman paling serius bagi Mercedes, jauh lebih baik dari posisi keempat mereka di 2025.
Regulasi baru terbukti cocok dengan filosofi desain SF-26 yang dikembangkan Ferrari sejak awal 2025. Mobil yang diberi nama kode Project 678 ini mengadopsi suspensi push-rod di belakang konsep yang tidak digunakan Ferrari sejak 2010 dan sejumlah pendekatan aerodinamis baru yang langsung menunjukkan potensinya saat shakedown di Barcelona, di mana Hamilton mencatatkan waktu tercepat.
Loïc Serra: Otak Baru di Balik Sasis Ferrari
Salah satu perubahan paling signifikan yang terjadi di Maranello adalah masuknya Loïc Serra sebagai Chassis Technical Director pada 1 Oktober 2024. Serra, insinyur asal Prancis kelahiran 1972, sebelumnya menjabat sebagai Performance Director di Mercedes, tim yang mendominasi era hybrid F1.
Selama di Mercedes, Serra adalah figur kunci yang memastikan ban, suspensi, aerodinamika, dan power unit bekerja sebagai satu paket yang cepat sekaligus andal. Keahlian inilah yang Ferrari butuhkan, dan Fred Vasseur berhasil meyakinkannya untuk bergabung.
Di Ferrari, Serra memimpin pengembangan SF-26 secara penuh, mulai dari desain suspensi hingga arah aerodinamika. Hasilnya langsung terasa: SF-26 dikenal memiliki cornering speed yang kuat, start race yang luar biasa, dan manajemen ban yang jauh lebih baik dari pendahulunya.
Fred Vasseur sendiri menyebut Serra sebagai “elemen kunci” dalam organisasi, mengakui bahwa pengalaman dan pengetahuan trackside yang dibawa Serra adalah aset berharga.
Namun Serra bukan satu-satunya perubahan. Jerome d’Ambrosio, juga mantan Mercedes, bergabung sebagai Deputy Team Principal, memperkuat lapisan manajemen atas Ferrari.
Transfer Insinyur dari WEC: Budaya Menang Le Mans Masuk F1
Inilah bagian yang paling menarik dan mungkin kurang disorot media arus utama.
Sejak awal 2026, Ferrari secara diam-diam melakukan transfer terstruktur insinyur-insinyur terbaik dari program WEC Hypercar ke tim F1.
Program WEC Ferrari yang dijalankan dengan Ferrari 499P telah memenangkan Le Mans 24 Jam sebanyak tiga kali berturut-turut dan meraih gelar Juara Dunia WEC 2025.
Sebuah pencapaian luar biasa yang bahkan membuat bos Ferrari, John Elkann, secara terbuka memuji organisasi WEC sebagai contoh yang harus ditiru oleh tim F1.
Langkah ini bukan sekadar rotasi sumber daya manusia. Ini adalah transfer budaya kerja, sesuatu yang jauh lebih bernilai dari sekadar keahlian teknis individu. Berikut yang coba dibawa dari WEC ke F1:
- Struktur hierarki yang jelas: Program WEC Ferrari berhasil karena adanya rantai komando yang tegas, minim friksi antar departemen, dan tanggung jawab teknis yang tidak tumpang tindih. Ferrari F1 kini bergerak ke model yang serupa — lebih piramidal, lebih efisien.
- Disiplin dan konsistensi: WEC menuntut keandalan sepanjang 24 jam, bukan kecepatan sesaat. Mentalitas ini ditransfer ke pendekatan pengembangan SF-26 — mobil yang dirancang tidak hanya cepat di satu putaran, tapi konsisten sepanjang balapan.
- “Technical silence”: Ferrari kini ingin insinyurnya bekerja dalam iklim teknis yang tenang — lebih sedikit gesekan antar departemen, lebih sedikit zona abu-abu dalam pengambilan keputusan.
Secara internal, Ferrari juga memastikan proyek SF-26 dijaga kerahasiaannya dengan ketat.
Hanya segelintir orang yang memiliki gambaran utuh proyek ini: Serra, Vasseur, Franck Sanchez, Enrico Gualtieri (Technical Director Power Unit), dan Diego Tondi (Kepala Aerodinamika).
Performa di Trek: Apa yang Sudah Dicapai?
Hasilnya di lintasan cukup menjanjikan, meski belum sempurna:
- Start race Ferrari menjadi yang terbaik di grid, sebuah keunggulan yang terbukti berkali-kali di awal musim, termasuk Leclerc yang langsung bersaing untuk memimpin dari posisi keempat di Melbourne.
- Podium konsisten: Leclerc dan Hamilton sama-sama telah naik podium, dengan Ferrari menjadi pesaing terdekat Mercedes di klasemen konstruktor.
- Kemenangan pertama di Barcelona: Lewis Hamilton meraih kemenangan perdana untuk Ferrari di Grand Prix Spanyol yang mengakhiri streak kemenangan Mercedes berkat paket upgrade besar yang mencakup sayap depan baru, sidepod, lantai, dan teknologi roda inovatif buatan BBS Japan yang membantu manajemen panas ban di suhu trek mencapai 52°C.
- Kekuatan di tikungan cepat: SF-26 sangat kompetitif di sektor-sektor tikungan cepat, area yang paling ketat dievaluasi para analis teknis.
Namun ada pekerjaan rumah yang tersisa. Ferrari masih tertinggal Mercedes sekitar 30 tenaga kuda pada power unit dalam kondisi balapanm setara dengan defisit sekitar setengah detik per lap.
Ini adalah batasan yang harus diselesaikan, dan upgrade power unit berikutnya diperkirakan hadir antara GP Kanada dan GP Spanyol.
Dampak Nyata: Transformasi yang Masih Berlangsung
Apakah transfer insinyur WEC dan masuknya Serra sudah “menyelesaikan” masalah Ferrari? Belum sepenuhnya. Tapi dampaknya sudah terasa:
| Aspek | 2025 | 2026 (sejauh ini) |
|---|---|---|
| Posisi Konstruktor | P4 | P2 |
| Kemenangan | 0 | 1 (Hamilton, Barcelona) |
| Podium | Beberapa | 6+ (Grand Prix) |
| Kualifikasi terbaik | P4 rata-rata | Lebih sering di baris depan |
| Keunggulan | — | Start race, tikungan cepat |
| Kelemahan | Hampir semua aspek | Power unit, kecepatan lurus |
Perubahan paling mendasar adalah bukan soal angka, tapi soal mentalitas. Ferrari kini tampil sebagai tim yang punya rencana, yang punya kepercayaan diri teknis, dan yang mampu mengeksekusi strategi dengan presisi, sesuatu yang sering absen di musim-musim sebelumnya.
Fred Vasseur merangkumnya dengan sempurna setelah kemenangan Barcelona: “Tiga minggu lalu saya hampir memecat setengah tim. Hari ini saya ingin membangun patung mereka. Kita harus tetap tenang.”
Proyek Jangka Panjang yang Mulai Berbuah
Ferrari musim 2026 bukan tim yang “gacor” dalam artian mendominasi seperti Red Bull di era Verstappen. Mereka adalah tim yang sedang dalam proses transformasi dan transformasi itu mulai menunjukkan hasil nyata.
Transfer insinyur dari WEC bukan sekadar tambalan sementara. Ini adalah langkah strategis untuk menyuntikkan DNA juara cara berpikir, cara bekerja, dan cara menang dari program endurance yang telah membuktikan dirinya di palagan Le Mans, ke dalam mesin F1 yang paling ikonik di dunia.
Apakah Ferrari akan juara dunia 2026? Terlalu dini untuk memastikan, mengingat Mercedes masih unggul dalam power unit.
Tapi satu hal jelas: Ferrari 2026 adalah Ferrari yang berbeda. Ferrari yang lebih lapar, lebih terorganisir, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, Ferrari yang benar-benar bisa diperhitungkan.
Musim masih panjang. Maranello sudah mulai berbicara keras.
Sumber: F1.com, ScuderiaFans.com, Wikipedia, ItalPassion.fr, GPFans.com
