Sepak bola Indonesia memiliki perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum negara ini merdeka.
Perjalanan itu melewati banyak babak, mulai dari kompetisi amatir kedaerahan, era semi profesional, hingga akhirnya menjadi liga profesional modern seperti yang dikenal masyarakat sekarang.
Artikel ini mengulas sejarah Liga Indonesia secara runtut, dari akar Perserikatan sampai terbentuknya Liga 1.
Sejarah Liga Indonesia: Awal Mula Kompetisi Sepak Bola di Indonesia
Cikal bakal kompetisi sepak bola nasional berasal dari kejuaraan yang diselenggarakan oleh Nederlandsch Indische Voetbal Bond pada awal abad ke dua puluh, saat itu bernama Kejuaraan Antar Kota Hindia Belanda.
Setelah Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia atau PSSI berdiri pada tahun 1930, lahirlah kompetisi resmi pertama yang dikenal dengan nama Perserikatan.
Klub klub seperti PSIM Yogyakarta, Persis Solo, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, Persib Bandung, dan Persija Jakarta menjadi peserta yang mewarnai era ini.
Era Perserikatan: Kompetisi Amatir Penuh Kebanggaan Daerah
Perserikatan berjalan sebagai kompetisi amatir yang sarat dengan kebanggaan dan fanatisme kedaerahan.
Setiap klub mewakili identitas kotanya masing masing sehingga setiap pertandingan besar selalu menyedot animo penonton yang luar biasa.
Meski levelnya masih amatir, gelar juara Perserikatan sangat prestisius dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi klub serta masyarakat pendukungnya.
Kompetisi ini bertahan cukup lama, berlangsung sejak tahun 1930an hingga akhir dekade 1970an.
Lahirnya Galatama sebagai Liga Semi Profesional Pertama
Memasuki tahun 1979, PSSI memperkenalkan format kompetisi baru bernama Liga Sepak Bola Utama atau yang lebih dikenal dengan sebutan Galatama.
Kompetisi ini digagas untuk mengakomodasi semangat profesionalisme yang mulai berkembang di dunia sepak bola.
Berbeda dengan Perserikatan yang berbasis klub daerah, Galatama diikuti oleh klub klub swasta seperti Warna Agung, Niac Mitra, Krama Yudha Tiga Berlian, Pelita Jaya, Arema Malang, dan Arseto Solo.
Galatama bahkan disebut sebagai salah satu pionir liga semi profesional di Asia, sejajar dengan Liga Hong Kong yang lebih dulu mapan.
Sepanjang tiga belas musim penyelenggaraannya, Galatama berjalan beriringan dengan Perserikatan.
Namun popularitas Galatama tidak pernah benar benar menyamai kompetisi Perserikatan yang telah lebih dulu mengakar di hati masyarakat.
Peleburan Perserikatan dan Galatama Menjadi Liga Indonesia
Perbedaan pamor antara kedua kompetisi membuat PSSI mengambil keputusan penting pada tahun 1994, yaitu meleburkan Perserikatan dan Galatama menjadi satu wadah baru bernama Liga Indonesia.
Penggabungan ini bertujuan menyatukan fanatisme kedaerahan dari Perserikatan dengan semangat profesionalisme yang dimiliki Galatama.
Liga Indonesia awalnya digulirkan dengan format dua wilayah, di mana delapan tim terbaik dari masing masing wilayah akan melaju ke babak berikutnya untuk memperebutkan gelar juara.
Nama kompetisi pada periode ini kerap mengikuti nama sponsor utama, mulai dari Liga Dunhill, Liga Kansas, Liga Bank Mandiri, hingga Liga Djarum Indonesia.
Klub klub seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, dan PSM Makassar menjadi kekuatan dominan pada masa awal era ini, meneruskan tradisi juara yang telah mereka bangun sejak zaman Perserikatan.
Era Liga Super Indonesia dan Masa Dualisme Kompetisi
Pada tahun 2008, PSSI kembali melakukan perubahan besar dengan menerapkan format kompetisi penuh seperti yang lazim digunakan di Eropa.
Nama liga pun berubah menjadi Liga Super Indonesia atau Indonesia Super League. Era ini melahirkan banyak klub juara baru seperti Persipura Jayapura, Arema, dan Sriwijaya FC.
Harmoni kompetisi sempat terganggu ketika muncul Liga Primer Indonesia pada tahun 2011 yang menimbulkan dualisme kompetisi sekaligus dualisme kepengurusan PSSI.
Konflik berkepanjangan ini berujung pada sanksi pembekuan dari FIFA terhadap PSSI pada tahun 2015, yang sempat membuat sepak bola nasional lumpuh total.
Kelahiran Liga 1: Babak Baru Sepak Bola Profesional Indonesia
Setelah sanksi FIFA dicabut, PSSI melakukan pembenahan menyeluruh dan meluncurkan branding baru untuk kompetisi kasta tertinggi pada tahun 2017, yaitu Liga 1 Indonesia yang dikelola oleh PT Liga Indonesia Baru.
Sejak saat itu, Liga 1 menjadi identitas kompetisi sepak bola profesional Indonesia selama tujuh musim, diikuti klub klub yang sebagian besar mewarisi sejarah panjang dari era Perserikatan maupun Galatama.
Transformasi Menuju Era Super League
Sebagai catatan tambahan, mulai musim 2025 dan 2026 PT Liga Indonesia Baru melakukan transformasi branding lagi dengan mengganti nama Liga 1 menjadi Super League, sementara Liga 2 berganti nama menjadi Championship.
Perubahan ini menjadi bagian dari upaya membangun identitas kompetisi yang lebih kuat di bawah entitas baru bernama I League.
Perjalanan panjang dari Perserikatan, Galatama, hingga Liga 1 menunjukkan bagaimana sepak bola Indonesia terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman.
Warisan Perserikatan dengan fanatisme kedaerahannya dan Galatama dengan semangat profesionalismenya tetap terasa hingga kini, menjadi fondasi bagi kompetisi sepak bola nasional yang terus tumbuh dan berbenah dari masa ke masa.
