Satu sirkuit. Tiga nama. Hampir mati dua kali.
Itulah kalimat yang paling tepat menggambarkan perjalanan panjang Grand Prix Austria, salah satu balapan Formula 1 dengan sejarah paling berliku di seluruh dunia.
Bagi banyak penggemar F1, Red Bull Ring yang berdiri megah di antara perbukitan hijau Styria terasa seperti sirkuit biasa.
Padahal di balik pemandangannya yang indah, tersimpan kisah nyaris punah, kontroversi besar, dan kebangkitan yang tidak ada yang menyangka bisa terjadi.
Lahir di Landasan Pacu (1963–1964)
Sebelum ada pegunungan, sebelum ada Red Bull, sebelum ada segala keindahan yang kita kenal sekarang, Grand Prix Austria bermula di tempat yang paling tidak glamor yang bisa dibayangkan: landasan pacu bekas bandara militer.
Pada 1963, sebuah balapan non-kejuaraan digelar di Sirkuit Zeltweg Airfield, lintasan yang dibangun di atas aspal landasan pacu tua di kota kecil Zeltweg, Austria.
Setahun kemudian, tepatnya pada 1964, GP Austria untuk pertama kalinya masuk ke dalam kalender resmi Kejuaraan Dunia Formula 1.
Tapi euforia itu tidak berlangsung lama.
Permukaan aspal landasan pacu yang tua, keras, dan tidak rata terbukti menjadi mimpi buruk bagi mobil-mobil F1. Getarannya sangat parah sampai komponen suspensi banyak yang patah di tengah balapan. Setelah satu edisi resmi kejuaraan dunia, sirkuit Zeltweg dinyatakan tidak layak. Austria membutuhkan arena baru — dan yang baru ini akan menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda.
Era Österreichring, Sirkuit Tercepat dan Paling Menakutkan di Dunia (1970–1987)
Beberapa kilometer dari lokasi bandara lama, di atas perbukitan Styria yang bergelombang, sebuah sirkuit permanen baru dibuka pada 1969. Namanya: Österreichring.
Panjangnya 5,942 km. Tikungannya mengalir cepat mengikuti kontur bukit. Elevasi berubah dramatis dari satu sudut ke sudut lain. Para pembalap yang pertama kali mencicipinya langsung tahu: ini bukan sirkuit biasa.
Österreichring adalah lintasan yang indah sekaligus kejam.
Di satu sisi, ia menawarkan pengalaman berkendara yang tak tertandingi. Kombinasi antara kecepatan tinggi, pemandangan alam, dan keterlibatan penuh pengemudi menjadikan sirkuit ini favorit banyak pembalap terbaik dunia.
Alain Prost bahkan pernah berkata bahwa semua sirkuit boleh diubah, tapi Österreichring sebaiknya dibiarkan apa adanya.
Di sisi lain, sirkuit ini bisa membunuh.
Tikungan paling berbahaya adalah Bosch Kurve, sebuah tikungan kanan menurun 180 derajat dengan hampir nol area run-off.
Pada era turbo 1986, ketika mesin F1 menghasilkan lebih dari 1.400 tenaga kuda dalam mode kualifikasi, Derek Warwick tercatat melaju 344 km/jam saat mendekati tikungan itu.
Tidak ada tembok. Tidak ada pagar pengaman yang memadai. Hanya tanah dan gravitasi.
Kecelakaan tragis juga terjadi di sini. Pada sesi pemanasan GP Austria 1975, pembalap Amerika Mark Donohue mengalami pecah ban di tikungan pertama dan meninggal dunia beberapa hari kemudian di rumah sakit.
Dan siapa yang menyangka, insiden aneh lain terjadi pada 1987 ketika pembalap McLaren Stefan Johansson nyaris celaka bukan karena mobil lawan, melainkan karena seekor rusa yang tiba-tiba muncul di lintasan saat mobilnya melaju lebih dari 240 km/jam.
Momen Paling Ikonik: Niki Lauda di Tanah Airnya
Di antara semua kenangan manis dari era Österreichring, tidak ada yang lebih emosional dari momen 1984.
Niki Lauda legenda Austria, mantan juara dunia, dan penyintas kecelakaan Nürburgring yang legendaris, akhirnya menang di Grand Prix kandangnya sendiri.
Kemenangan di GP Austria 1984 itu tidak hanya spesial secara personal; Lauda kemudian mengunci gelar juara dunia ketiga dan terakhirnya di musim yang sama, mengalahkan rekan setimnya Alain Prost hanya dengan selisih setengah poin, margin terkecil dalam sejarah F1.
Setahun kemudian, juga di Österreichring, Lauda mengumumkan pensiun permanen dari balapan. Kisah lingkaran sempurna seorang legenda di tanahnya sendiri.
Setelah 18 tahun menjadi tuan rumah GP Austria (1970–1987), Österreichring akhirnya dinyatakan terlalu berbahaya untuk era modern.
Balapan 1987 menjadi yang terakhir. Austria pun menghilang dari kalender F1 dan tidak ada yang tahu apakah ia akan pernah kembali.
Vakum Pertama dan Transformasi Menjadi A1-Ring (1988–2003)
Selama sembilan tahun, tidak ada bunyi mesin F1 di pegunungan Styria.
Lalu pada musim dingin 1995–1996, segalanya berubah. Dengan dana dari perusahaan telekomunikasi Austria bernama A1, sirkuit direnovasi total.
Arsitek sirkuit kenamaan Hermann Tilke ditugaskan untuk merombak habis Österreichring menjadi lintasan yang memenuhi standar keselamatan modern.
Hasilnya kontroversial.
Sirkuit diperpendek dari 5,942 km menjadi hanya 4,326 km. Tikungan-tikungan cepat yang membuat jantung berhenti sejenak diganti dengan tiga hairpin ketat yang lebih aman, tapi jauh lebih membosankan menurut banyak penggemar lama.
Tikungan Bosch Kurve yang legendaris lenyap, digantikan hairpin biasa. Nama sirkuit pun berubah: A1-Ring.
F1 kembali ke Austria pada 1997. Balapan pertama langsung meninggalkan kesan, Jacques Villeneuve menang, sementara Jean Alesi mengalami kecelakaan spektakuler ketika Benetton-nya naik ke atas Ferrari Eddie Irvine.
Rekan setim Alesi, Gerhard Berger, memilih momen balapan di tanah airnya sendiri untuk mengumumkan pensiun dari F1.
Tujuh tahun kemudian, A1-Ring menjadi saksi salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah olahraga ini.
Pada GP Austria 2002, Ferrari memerintahkan Rubens Barrichello yang sedang memimpin untuk memperlambat mobilnya di lap terakhir agar Michael Schumacher bisa menyalipnya dan menang.
Penonton pun menyoraki podium. Tim management F1 mengecam habis-habisan.
Insiden ini masih dikenang sebagai salah satu momen paling tidak sportif dalam sejarah F1.
Tapi terlepas dari semua itu, era A1-Ring berakhir bukan karena kontroversi balapan, melainkan karena politik.
Pada 2003, Bernie Ecclestone memutus kontrak GP Austria karena pemerintah Austria mendukung larangan iklan rokok di Uni Eropa. Dalam satu keputusan administratif, Austria sekali lagi menghilang dari peta F1.
Hampir Mati, Drama Paling Gelap (2004–2010)
Inilah babak yang hampir tidak pernah diceritakan.
Pada 2004, A1-Ring dibeli oleh Dietrich Mateschitz — miliuner Austria, pendiri Red Bull, dan salah satu orang paling kaya di dunia.
Ia punya visi besar: membangun kompleks motorsport mewah di atas lahan itu, menghubungkan kembali sebagian dari lintasan Österreichring lama, menambahkan hotel, museum, sekolah balap, hanggar pesawat koleksi pribadi, dan fasilitas-fasilitas kelas dunia lainnya.
Anggaran yang dibicarakan mencapai lebih dari 400 juta euro.
Untuk memulai, tribun dan bangunan pit dibongkar. Lintasan dipotong dua dengan terowongan akses. Sirkuit yang sudah tidak dipakai pun benar-benar tidak bisa dipakai.
Lalu semuanya berhenti.
Izin lingkungan tidak keluar. Pemilik lahan tetangga mengajukan keberatan. Otoritas daerah tidak menyetujui skala proyek itu.
Satu per satu, investor seperti Volkswagen dan KTM mundur. Yang tersisa hanyalah sirkuit setengah hancur, tidak berfungsi, di atas pegunungan yang sunyi.
Selama beberapa tahun, masa depan sirkuit benar-benar gelap. Sempat ada wacana bahwa tanah itu akan diubah menjadi kawasan perumahan atau area wisata alam biasa.
Tidak sedikit yang berpikir: inilah akhir dari sirkuit yang pernah menjadi salah satu paling legendaris di dunia.
Tapi Mateschitz tidak menyerah.
Pada 2008, setelah bertahun-tahun berjibaku dengan birokrasi, izin akhirnya keluar.
Dengan rencana yang jauh lebih sederhana, tidak ada mega-kompleks, tidak ada koneksi ke lintasan lama, sirkuit dibangun ulang dari nol. Fasilitas baru. Pit building baru. Tribun baru.
Kebangkitan, Lahirnya Red Bull Ring (2011–sekarang)
Pada 2011, sirkuit itu dibuka kembali. Namanya: Red Bull Ring.
Secara teknis, ini adalah lintasan yang sama dengan A1-Ring, panjang, layout, dan karakteristik dasarnya tidak banyak berubah.
Tapi dari sisi fasilitas, suasana, dan identitas, ini adalah sesuatu yang baru sama sekali. Red Bull memasukkan DNA mereka ke dalam setiap sudut sirkuit: dari desain arsitektur pit lane yang modern hingga integrasi dengan brand energi drink mereka yang kini sudah menjadi kekuatan dominan di F1.
F1 kembali ke Austria pada 2014, setelah absen selama sebelas tahun.
Dan sejak kembalinya, Red Bull Ring langsung menemukan raja barunya: Max Verstappen.
Pembalap Belanda yang juga merupakan ikon Red Bull Racing ini memenangkan GP Austria pada 2018, 2019, 2021, dan 2023, empat kemenangan di sirkuit yang secara harfiah dimiliki oleh timnya sendiri. Ironi yang menyenangkan, atau kesesuaian yang sempurna?
Musim 2020 dan 2021 bahkan menjadi momen unik ketika Red Bull Ring menggelar dua balapan dalam satu musim, GP Austria dan Styrian GP sebagai respons terhadap pembatasan pandemi COVID-19 yang memangkas kalender F1.
Dan masa depan sirkuit ini kini terjamin panjang. Pada 2023, kontrak antara Red Bull Ring dan Formula 1 diperpanjang: Austria dijadwalkan tetap berada di kalender F1 hingga tahun 2041.
Epilog: Lebih dari Sekadar Sirkuit
Kisah Grand Prix Austria adalah cerminan dari perjalanan Formula 1 itu sendiri: dari era yang raw dan berbahaya, melewati fase modernisasi yang kontroversial, sempat hilang, dan kembali lebih kuat dari sebelumnya.
Setiap musim panas, ketika mobil-mobil F1 meraung di antara perbukitan hijau Styria, ketika ribuan penonton berdiri di tribun Nord yang ikonik, memandangi seluruh lintasan dari sudut pandang terbaik yang ada, semua babak panjang itu hadir kembali.
Dari landasan pacu yang merusak suspensi di Zeltweg. Dari tikungan Bosch Kurve yang mendebarkan di Österreichring. Dari drama politik A1-Ring. Dari sirkuit yang hampir tidak pernah kembali hidup.
Red Bull Ring bukan sekadar tempat balapan. Ia adalah bukti bahwa bahkan tempat yang sudah dihapus dari peta bisa bangkit kembali, selama ada orang yang cukup gila untuk tidak menyerah.
Sumber: Formula1.com, Wikipedia, RacingCircuits.info, F1Austria.com
