Di kalender Formula 1 yang berubah setiap tahun, ada balapan-balapan yang datang dan pergi. Sirkuit baru masuk, sirkuit lama tergusur. Negara-negara yang dulu ada kini menghilang, digantikan oleh lokasi eksotis dengan dana besar.
Tapi ada dua balapan yang tidak pernah absen sejak F1 pertama kali ada: GP Italia di Monza dan GP Inggris di Silverstone.
Bukan kebetulan. Dan bukan sekadar soal uang. Ini adalah tentang sebuah hubungan yang sudah tertanam begitu dalam sehingga memisahkan Inggris dari Formula 1 terasa seperti memisahkan jantung dari tubuhnya.
Semuanya Dimulai di Lapangan Terbang yang Ditinggalkan
Untuk memahami mengapa GP Inggris tidak pernah absen dari kalender F1, kamu harus pergi ke tahun 1943. Di tengah Perang Dunia II, Royal Air Force membangun sebuah pangkalan udara militer di perbatasan Northamptonshire dan Buckinghamshire di jantung Inggris.
Letaknya strategis: hampir tepat di tengah antara London dan Birmingham, jauh dari pantai, tersembunyi di balik pedesaan Inggris yang tenang. Namanya RAF Silverstone.
Tiga tahun setelah perang berakhir, pangkalan itu sudah tidak terpakai. Royal Automobile Club menyewa lahan itu dan melakukan sesuatu yang tidak disangka siapapun saat itu: mengubah jalur perimeter dan landasan pacunya menjadi sirkuit balap.
Silverstone menggelar balapan pertamanya, Royal Automobile Club International Grand Prix, pada 2 Oktober 1948, yang dimenangkan oleh Luigi Villoresi dari Italia menggunakan Maserati. Kerumunan yang datang luar biasa banyaknya. Sesuatu yang baru saja lahir.
Dua tahun kemudian, pada 13 Mei 1950, Silverstone menjadi tuan rumah momen yang akan mengubah sejarah olahraga dunia selamanya.
13 Mei 1950: Hari yang Mengubah Segalanya
Balapan pertama Kejuaraan Dunia Formula 1 digelar di Silverstone pada 1950, dan Inggris memiliki hubungan yang sangat dalam dengan olahraga ini sejak saat itu.
Itu bukan sekadar balapan biasa. Raja George VI hadir di tribun. Sekitar 100.000 penonton berjejalan di tepi lintasan. Alfa Romeo dengan warna merah Italia mendominasi grid.
Dan ketika Giuseppe Farina melintas sebagai pemenang pertama Kejuaraan Dunia F1 dalam sejarah, Silverstone resmi menjadi tempat kelahiran olahraga ini.
Silverstone adalah satu dari hanya empat Grand Prix yang ada di kalender F1 pertama pada 1950 dan masih ada hingga hari ini, bersama Monaco, Spa, dan Monza.
Empat balapan dari tujuh yang ada di musim pertama, bertahan lebih dari tujuh dekade. Itu bukan sekadar keberuntungan. Ada alasan yang jauh lebih dalam.
Mengapa Inggris Begitu Cocok untuk Motorsport?
Ketika perang berakhir pada 1945, Inggris memiliki kombinasi unik yang tidak dimiliki negara lain: lapangan terbang militer yang tersebar di seluruh pedesaan, ribuan insinyur dan mekanik terlatih yang tiba-tiba tidak punya pekerjaan, dan industri manufaktur presisi yang sudah terbukti mampu membangun mesin-mesin canggih untuk keperluan perang.
Ketika motorsport dimulai kembali setelah Perang Dunia II, banyak hal tersedia dalam jumlah besar: lapangan terbang kosong milik Royal Air Force, insinyur angkatan udara yang dimobilisasi, dan kerinduan mendalam akan kembalinya olahraga motorsport.
Lapangan terbang seperti Silverstone diubah menjadi sirkuit. Para insinyur yang sebelumnya merancang pesawat tempur mulai merancang mobil balap.
Industri manufaktur yang sebelumnya memproduksi komponen pesawat mulai memproduksi komponen mobil. Dan semua ini terjadi dalam radius yang relatif kecil di Inggris tengah dan selatan.
Vanwall memberikan teladan dengan memenangkan GP Inggris 1957 dan meraih Kejuaraan Konstruktor pertama pada 1958. Setelah itu kesuksesan mulai mengalir untuk Lotus, Cooper, BRM, dan mesin Coventry-Climax.
Karena sebagian besar operasi ini bersedia berkembang dan menjual produk mereka kepada tim lain, sebuah ekosistem tumbuh di sekitar F1 di Inggris, khususnya di tenggara negeri ini.
Ekosistem itu tidak pernah berhenti tumbuh.
Motorsport Valley: Silicon Valley-nya Balap Dunia
Hari ini, jika kamu mengendarai mobil dalam radius sekitar 80 kilometer dari Silverstone ke segala arah, kamu akan melewati markas besar sebagian besar tim Formula 1 yang ada di dunia.
Dari sepuluh tim F1 saat ini, tujuh memiliki markas besar dalam radius sekitar 80 kilometer di Motorsport Valley Inggris. Area ini bukan sekadar kumpulan kantor yang kebetulan berdekatan. Ia adalah produk dari puluhan tahun warisan motorsport dan penguasaan rekayasa teknik.
Red Bull Racing bermarkas di Milton Keynes. Mercedes membangun operasinya di Brackley dan Brixworth. McLaren ada di Woking. Williams di Grove. Aston Martin di Silverstone itu sendiri. Alpine di Enstone. Dan kini Cadillac sebagai tim baru pun memilih mendirikan markas di dekat fasilitas Aston Martin.
Ini bukan kebetulan geografis. Konsentrasi tim dan pemasok di Motorsport Valley menciptakan lingkungan unik yang mendorong kemajuan berkelanjutan dalam Formula 1.
Kedekatan lokasi memungkinkan kolaborasi dan inovasi yang cepat, sementara warisan teknik motorsport Inggris yang kaya menyediakan sumber pengalaman yang dalam.
Motorsport Valley mempekerjakan sekitar 40.000 orang, banyak di antaranya adalah insinyur dan teknisi dengan keahlian tinggi, dan kawasan ini berkontribusi lebih dari 9 miliar pound atau sekitar 12 miliar dolar AS ke ekonomi Inggris setiap tahunnya.
Ini adalah industri senilai miliaran dolar yang semuanya berputar di sekitar sebuah lapangan terbang yang ditinggalkan di Northamptonshire. Dan karena industri ini sudah begitu dalam berakarnya di Inggris, tidak ada insentif ekonomi yang masuk akal untuk memindahkannya ke negara lain.
Meskipun sebagian besar balapan F1 selalu membutuhkan perjalanan melintasi Selat Inggris, dan lokasi lain mungkin lebih masuk akal secara geografis sebagai markas, Inggris menawarkan sedikit insentif bagi tim untuk pindah setelah industri berkembang di sana.
Kumpulan bakat mekanik dan teknik tersedia di Inggris terus bertambah, dan saat ini tenggara Inggris mungkin menjadi rumah bagi lebih banyak spesialis motorsport terampil daripada tempat lain di dunia.
Inggris dan Juara Dunia: Angka yang Berbicara Sendiri
Hubungan Inggris dengan F1 bukan hanya soal infrastruktur dan bisnis. Ada dimensi yang jauh lebih emosional: pembalap.
Inggris telah melahirkan 11 Juara Dunia dengan 21 gelar di antara mereka. Itu adalah angka yang tidak tertandingi oleh negara lain mana pun dalam sejarah F1. Dari Mike Hawthorn yang menjadi Juara Dunia Inggris pertama pada 1958, hingga Jim Clark yang mendominasi era 1960-an, Nigel Mansell yang meledak-ledak di akhir era 1980-an, Damon Hill, Jenson Button, dan puncaknya Lewis Hamilton yang memenangkan tujuh gelar dunia.
Lewis Hamilton memenangkan GP Inggris sebanyak sembilan kali, menjadikannya rekor tersendiri yang mungkin tidak akan disamakan dalam waktu dekat.
Dan ini bukan hanya soal Hamilton. Inggris adalah pemimpin mutlak dalam hal gelar Konstruktor. Tim-tim Inggris telah memenangkan 33 gelar Konstruktor sepanjang sejarah F1, mengalahkan Italia, Jerman, dan Prancis. Lotus, Cooper, BRM, Brabham, Tyrrell, McLaren, Williams, Brawn, dan kini Red Bull Racing yang meski beridentitas Austria tetap bermarkas di Milton Keynes dan menggunakan otak-otak teknik Inggris sebagai tulang punggungnya.
Silverstone dan GP Inggris: Hampir Hilang Dua Kali
Hubungan yang dalam ini tidak berarti perjalanannya selalu mulus. GP Inggris sebenarnya pernah berada di ambang kehilangan tempatnya di kalender F1 bukan sekali, tapi dua kali.
Yang pertama terjadi pada akhir 2000-an. Donington Park, sirkuit lain di Inggris, mengajukan diri untuk mengambil alih GP Inggris dari Silverstone dengan menawarkan renovasi besar-besaran. Proyek renovasi ambisius itu dimulai, tapi kemudian tersandung masalah keuangan yang serius dan pembangunannya mangkrak. Silverstone selamat bukan karena Donington gagal, tapi karena memang tidak ada pilihan lain yang siap.
Yang kedua terjadi pada 2017. Pada 11 Juli 2017, BRDC, pemilik Silverstone, mengaktifkan klausul pemutusan kontrak karena biaya yang harus dibayarkan kepada F1 terus meningkat, dari 11,5 juta pound pada 2010 hingga 16,2 juta pound pada 2017, dan diperkirakan akan mencapai 25 juta pound pada 2026. Tanpa kontrak baru, 2019 akan menjadi GP Inggris terakhir di Silverstone.
Bayangkan itu: balapan yang ada sejak F1 pertama kali lahir hampir saja tidak ada lagi.
Namun pada hari Rabu sebelum GP Inggris 2019 dimulai, kontrak baru yang tidak memberatkan secara finansial akhirnya ditandatangani antara Silverstone dan Liberty Media, pemilik baru hak komersial F1, setelah dua tahun negosiasi. Silverstone dikontrak untuk menjadi tuan rumah GP Inggris setidaknya hingga 2024.
Saat ini kontrak sudah diperpanjang lebih jauh, dan Silverstone tampaknya akan terus ada di kalender F1 untuk masa yang bisa diprediksi.
Dari Tiga Orang di Tepi Jalan ke Festival Terbesar F1
Ada kutipan menarik tentang perjalanan GP Inggris dari masa ke masa. Penonton awal GP Inggris digambarkan sebagai “tiga orang berdiri di atas gundukan rumput dan sebuah truk burger”. Seiring waktu, GP Inggris berkembang menjadi “hampir seperti Glastonbury-nya motorsport”, dengan musik, hiburan, makanan, dan fasilitas yang jauh melampaui balapan 90 menit itu sendiri.
Perbandingan dengan Glastonbury bukan berlebihan. GP Inggris di Silverstone sudah lama bukan sekadar balapan. Ia adalah festival. Penonton datang bukan hanya untuk melihat mobil berputar, tapi untuk menikmati pengalaman akhir pekan penuh yang mencakup konser musik, pameran, aktivitas interaktif, dan atmosfer yang tidak bisa ditemukan di GP manapun di dunia.
Kehadiran penonton terus bertumbuh seiring Silverstone semakin berorientasi pada hiburan selain balapan. Pada 2026, GP Inggris menjadi Grand Prix dengan penonton terbanyak dalam sejarah F1, dengan 570.000 penonton yang hadir sepanjang akhir pekan, meningkat dari 480.000 pada 2023.
570.000 orang dalam satu akhir pekan balapan. Untuk konteks, itu lebih dari seluruh populasi kota Manchester datang ke satu tempat dalam empat hari.
Kenapa GP Inggris Tidak Akan Pernah Hilang
Pertanyaan di judul artikel ini sebenarnya sudah terjawab sendiri oleh sejarahnya.
GP Inggris tidak bisa hilang karena terlalu banyak hal yang terhubung dengannya. F1 telah mengunjungi Silverstone sebanyak 60 kali, dan hanya Monza dengan 76 kunjungan dan Monte Carlo dengan 72 kunjungan yang lebih sering muncul di kalender.
Tapi lebih dari angka kunjungan itu, GP Inggris tidak bisa hilang karena Inggris adalah tempat di mana F1 sesungguhnya tinggal. Bukan di markas FIA di Paris. Bukan di kantor Liberty Media di Amerika. Tapi di jalanan sempit Northamptonshire tempat para insinyur Red Bull, McLaren, Mercedes, Williams, Aston Martin, dan Alpine setiap hari berangkat kerja untuk merancang mobil-mobil yang akan bersaing di seluruh dunia.
Membuang GP Inggris dari kalender F1 akan seperti mengadakan Olimpiade tanpa atletik, atau mengadakan Grand Slam tanpa Wimbledon. Secara teknis mungkin, tapi sesuatu yang fundamental akan hilang.
Hubungan antara Inggris dan Formula 1 bukan sekadar kontrak komersial antara penyelenggara balapan dan pemegang hak komersial. Ia adalah hubungan yang dibangun di atas lapangan terbang yang ditinggalkan, di atas tulisan-tulisan teknik dari insinyur yang pernah merancang pesawat tempur, di atas teriakan 570.000 penonton yang memadati perbukitan hijau Northamptonshire setiap musim panas.
Selama ada Formula 1, akan ada GP Inggris. Bukan karena aturan, tapi karena memang begitu seharusnya.
Sumber: Wikipedia, Formula1.com, GPDestinations.com, Autosport, Mercedes AMG F1, GrandPrixExperience.com, F1Oversteer
