Bayangkan ini: seorang pembalap menang berulang kali di sirkuit yang secara harfiah dimiliki oleh timnya. Di atas tanah yang dibeli bosnya. Di hadapan ribuan penggemarnya sendiri yang mengenakan oranye dari kepala sampai kaki.
Itulah kisah Max Verstappen dan Red Bull Ring, sebuah hubungan yang sudah melampaui batas antara “pembalap favorit” dan “kandang sendiri.”
Sebelum Verstappen: Empat Tahun Mercedes Berkuasa
Ketika F1 kembali ke Austria pada 2014 setelah absen 11 tahun, Red Bull Ring yang baru direnovasi menyambut era dominasi Mercedes.
Nico Rosberg menang pada tahun pertama kembalinya Austria ke kalender F1. Setahun kemudian, Rosberg menang lagi. Pada 2016 dan 2017, giliran Lewis Hamilton dan Valtteri Bottas yang berpesta.
Empat balapan pertama di era Red Bull Ring modern, empat kemenangan Mercedes.
Red Bull, yang namanya terpampang besar di sirkuit itu, pulang dengan tangan kosong di tanah airnya sendiri. Ironi yang menyakitkan.
Lalu datanglah musim panas 2018.
Kemenangan Pertama (2018): “Sama Sekali Tidak Terduga”
1 Juli 2018. Max Verstappen start dari posisi keempat, bukan posisi ideal untuk menang di sirkuit mana pun, apalagi di sirkuit sependek Red Bull Ring yang biasanya menentukan posisi finis berdasarkan kualifikasi.
Tapi Red Bull Ring bukan sirkuit biasa, dan Verstappen bukan pembalap biasa.
Race day berlangsung panas luar biasa, kondisi yang secara tidak langsung menguntungkan Red Bull.
Di lap pertama, kekacauan terjadi di antara para pembalap Mercedes. Valtteri Bottas yang start dari pole membuat start buruk, ban belakangnya berputar di tempat.
Hamilton berhasil maju, tapi posisi ketiga diserahkan dengan mudah ke Kimi Räikkönen yang melesat dari belakang.
Verstappen memanfaatkan kekacauan itu untuk naik ke posisi ketiga.
Yang terjadi selanjutnya adalah pelajaran tentang kesabaran dan manajemen ban. Sementara Hamilton akhirnya harus masuk pit dan mengalami masalah teknis, Verstappen memimpin dan tidak pernah melepaskan posisi itu.
Ketika bendera kotak-kotak turun, Verstappen menjadi pembalap pertama yang memenangkan GP Austria untuk Red Bull, di sirkuit milik Red Bull sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, pemilik sirkuit bisa merayakan kemenangan di tanahnya sendiri.
Verstappen sendiri menyebut kemenangan itu sebagai salah satu yang paling tidak terduga dalam karirnya.
Ia start dari posisi keempat, mobilnya bukan yang terkencang, dan kemenangan itu datang dari kombinasi keberuntungan rival dan eksekusi sempurna dari dirinya sendiri.
Kemenangan Kedua (2019): Comeback dari Posisi Kedelapan
Jika kemenangan 2018 datang dari keberuntungan dan manajemen baik, kemenangan 2019 adalah murni dari bakat mentah.
30 Juni 2019. Verstappen start kedua, tapi anti-stall mobilnya bermasalah di garis start. Dalam hitungan detik, ia sudah terjatuh ke posisi kedelapan, tujuh mobil ada di depannya sebelum balapan benar-benar dimulai.
Di sirkuit lain, ini mungkin sudah tamat. Red Bull Ring hanya 71 lap dengan track yang pendek, sedikit tikungan, dan terbatasnya peluang overtaking di tempat-tempat tertentu. Tapi Verstappen, dengan izin dari tim untuk “memaksimalkan mesin Honda sampai habis” mulai berburu satu per satu.
Räikkönen. Norris. Bottas. Hamilton (yang kemudian masuk pit karena kerusakan sayap depan). Vettel.
Dengan tiga lap tersisa, Verstappen mengejar Charles Leclerc yang memimpin dengan selisih lebih dari 13 detik. Hampir mustahil secara matematis.
Tapi Verstappen memiliki ban yang lebih segar dan mesin yang difungsikan penuh.
Di lap 67, ia menyalip Leclerc di tikungan 2 dalam manuver yang mendebarkan, kedua mobil sempat bersentuhan, tapi steward memutuskan manuver itu legal.
Verstappen meraih kemenangan keduanya di Red Bull Ring. Kali ini, ia juga menandai kemenangan pertama untuk mesin Honda sejak Jenson Button menang di GP Hungaria 2006, 13 tahun sebelumnya.
Hari bersejarah untuk tim dan untuk semua orang di paddock Honda.
Di tribun, lautan oranye meledak.
Antara 2019 dan 2021: Tahun Kelam dan Pandemi
Musim 2020 adalah anomali. Pandemi COVID-19 memaksa F1 membuka musim di Red Bull Ring, dua balapan berturut-turut di sirkuit yang sama dalam dua minggu.
Verstappen pensiun di keduanya karena masalah teknis. Bottas menang di GP Austria, Hamilton menang di Styrian GP.
Momen pahit bagi Verstappen dan Red Bull di kandang sendiri.
Tapi semuanya berubah di 2021.
Kemenangan Ketiga & Keempat (2021): Dua Kali dalam Dua Minggu
27 Juni 2021, Styrian GP. Di tahun dimana pertarungan Verstappen vs Hamilton akhirnya memanas menjadi rivalitas paling epik dalam satu dekade, Red Bull Ring menjadi panggung demonstrasi kekuatan Verstappen yang paling telanjang.
Ia start dari pole. Ia memimpin dari awal. Ia tidak pernah kehilangan posisi pertama bahkan sedetik pun, leading every single lap dan menang dengan margin yang cukup untuk membuat Christian Horner menyebutnya sebagai “kemenangan paling dominan yang kami miliki sepanjang tahun melawan Mercedes.”
Satu minggu kemudian, di GP Austria yang sebenarnya, ceritanya hampir sama. Pole position, memimpin dari depan, menang lagi.
Dalam 14 hari, Verstappen memenangkan dua balapan F1 di sirkuit yang sama.
Dua trofei dari satu lokasi. Ia memperluas keunggulannya atas Hamilton di klasemen dan mengirim sinyal tegas kepada seluruh paddock: Red Bull Ring adalah wilayah kekuasaannya.
2022–2023: Tersingkir, Lalu Bangkit Lebih Kuat
Tahun 2022 menjadi satu-satunya musim di mana Verstappen tidak menang di Red Bull Ring di era dominasinya.
Charles Leclerc mengalahkan Verstappen untuk Ferrari, momen manis bagi tim Italia di tengah musim yang penuh drama.
Tapi Verstappen kembali pada 2023 dengan cara yang paling meyakinkan.
2 Juli 2023. Ini bukan sekadar balapan GP Austria ini adalah bagian dari periode dominasi Red Bull yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah F1.
Red Bull memenangkan 9 balapan pertama musim itu secara beruntun. Verstappen datang ke Austria setelah memenangkan empat balapan berturut-turut sebelumnya.
Start dari pole, Verstappen membangun keunggulan sejak lap pertama. Ketika VSC (Virtual Safety Car) keluar di awal balapan, hampir semua tim pit, kecuali Red Bull.
Strategi berani yang awalnya tampak mempertaruhkan posisi, tapi terbukti brilian.
Setelah pit stop yang sempurna waktunya, Verstappen keluar di belakang Leclerc, lalu dalam hitungan lap, melewatinya dengan mudah dan membangun gap yang tidak pernah terancam.
Kemenangan itu adalah yang ke-42 dalam karirnya, melewati Ayrton Senna di daftar pembalap F1 dengan kemenangan terbanyak sepanjang masa.
Dan ia melakukannya di Red Bull Ring, kandang yang paling ia cintai.
2024: Tahun Pertama Tanpa Menang dan Drama Terbesar
Jika ada satu balapan yang mencerminkan betapa sirkuit ini bisa berbalik arah dalam hitungan menit, itu adalah GP Austria 2024.
Verstappen start dari pole dan mendominasi. Selama 51 lap, ia membangun keunggulan atas Lando Norris (McLaren) sambil tampak nyaman dan terkontrol.
Kemenangan kelimanya di Austria tampak tinggal formalitas.
Tapi di lap 52, sebuah pit stop bermasalah, ban belakang kiri Verstappen susah dilepas, membuatnya keluar dari pit hanya beberapa meter di depan Norris. Keunggulan enam detik lenyap dalam satu stop.
Norris menempel di belakang, lalu mulai menyerang. Lap 59, ia menyalip Verstappen di Turn 3, tapi keluar jalur dan harus mengembalikan posisi. Semakin tegang. Semakin panas.
Lalu datanglah lap 64 yang mengubah segalanya.
Norris menyerang lagi di Turn 3. Verstappen bergerak ke kanan untuk menutup ruang. Dua ban belakang bertabrakan yang mengakibatkan bocor.
Verstappen merangkak ke pit, begitu pula Norris. Bedanya: Norris harus retire karena kerusakan parah, sementara Verstappen berhasil melanjutkan meski kemudian menerima penalti 10 detik.
George Russell yang santai berlari di posisi ketiga sepanjang balapan tiba-tiba menjadi pemimpin dan memenangkan GP Austria tanpa perlu bersaing siapapun di laps terakhir.
Verstappen keluar dari Austria tanpa kemenangan untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir.
Dan rivalitas dengan Norris yang akan terus memanas hingga akhir musim.
Rekor yang Berbicara
Lima kemenangan di satu venue adalah sesuatu yang jarang dalam F1. Inilah gambaran dominasi Verstappen di Red Bull Ring secara angka:
- 4 kemenangan GP Austria (2018, 2019, 2021, 2023) — rekor terbanyak dalam sejarah lomba ini
- 1 kemenangan Styrian GP (2021) — balapan tambahan karena pandemi, juga di Red Bull Ring
- 4 pole position di Red Bull Ring (2021, 2022, 2023, 2024) — rekor era modern
- 4 fastest lap di Red Bull Ring — terbanyak dari siapapun di era modern
- Kemenangan dari posisi start serendah keempat (2018) — membuktikan sirkuit ini bisa dimenangkan dari mana saja
Untuk perbandingan: Alain Prost yang menjadi runner-up dalam daftar pembalap dengan kemenangan terbanyak di Austria, perlu waktu dari 1983 hingga 1986 untuk mengumpulkan tiga kemenangan, di era Österreichring yang lebih panjang dan berbahaya.
Verstappen sudah empat kemenangan hanya dalam enam tahun di era Red Bull Ring modern.
Lebih dari Sekadar Angka
Ada sesuatu yang lebih dari sekadar statistik dalam hubungan Verstappen dengan Red Bull Ring.
Sirkuit ini adalah satu-satunya di kalender F1 yang dimiliki langsung oleh tim Verstappen.
Setiap kemenangan di sini bukan hanya miliknya, itu milik Dietrich Mateschitz yang membangun kembali sirkuit dari puing-puing, milik Christian Horner yang memimpin tim selama lebih dari dua dekade, milik ribuan fans oranye yang berkemah berhari-hari di bukit Styria hanya untuk melihat pembalap favorit mereka meraung melewati tikungan-tikungan itu.
Dan tentu saja, kemenangan di Red Bull Ring selalu datang dengan momen ekstra yang tidak ada di tempat lain.
Pemandangan perbukitan hijau di belakang. Lagu kebangsaan Belanda yang dinyanyikan ribuan suara. Verstappen yang melakukan burnout setelah finish garis, meskipun pernah mendapat peringatan resmi karena itu.
Tidak ada sirkuit lain di dunia yang memberikan konteks dan makna seperti ini bagi seorang pembalap F1.
Sumber: Formula1.com, Wikipedia, SkySports, Total Motorsport, Autosport, RaceFans
