Performa Ferrari di Grand Prix Austria 2026 berakhir jauh dari ekspektasi. Meski start dari posisi kedua dan ketiga grid lewat Charles Leclerc dan Lewis Hamilton, Scuderia asal Maranello ini justru pulang dengan hasil mengecewakan: Hamilton finis P5 dan Leclerc terpuruk di P8.
Masalah pace yang membayangi Ferrari ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak sesi latihan bebas hari Jumat, dan terus berlanjut hingga bendera finis berkibar di hari Minggu.
Tanda-tanda Masalah Sudah Terlihat Sejak Jumat
Ferrari datang ke Spielberg dengan penuh keyakinan setelah kemenangan di Spanyol, membawa sasis yang diperbarui dan pembaruan power unit baru, berharap bisa melangkah lebih maju lagi.
Namun ternyata performa mereka jauh di bawah ekspektasi baik dalam satu lap kualifikasi maupun dalam simulasi balapan jarak panjang.
Hamilton tercatat 0,597 detik lebih lambat dari yang tercepat pada sesi latihan bebas kedua, sementara defisit balapan jarak panjangnya mencapai 0,51 detik per lap.
Charles Leclerc sendiri mengakui kebingungannya menghadapi mobil SF-26. Saat ditanya apa yang kurang dari mobilnya, Leclerc menjawab bahwa ia kehilangan grip secara keseluruhan dan mengalami sliding dari keempat roda sejak lap pertama yang ia jalani, sebuah situasi yang menurutnya sangat sulit.
Ia menyebut dalam hal degradasi ban sebenarnya timnya tidak dalam posisi buruk, namun masalah utamanya adalah kecepatan murni yang tidak ada, sehingga setelah 20 lap mobilnya baru terasa cepat, padahal itu sudah terlambat.
Defisit Garis Lurus dan Masalah Balance di Tikungan
Ferrari diketahui mengalami kesulitan saat sliding di tikungan, di mana traksi menjadi masalah bagi semua pihak, namun karakter Red Bull Ring membuat sangat mudah bagi roda belakang untuk slip saat keluar tikungan, menciptakan perbedaan suhu besar antara permukaan ban dan bagian dalamnya.
Hal ini menciptakan semacam siklus berbahaya, di mana permukaan ban yang terlalu panas justru memberikan grip lebih sedikit di tikungan, menghasilkan lebih banyak sliding lagi dan menyebabkan ban mengalami graining.
Q3 Sempat Membaik, Tapi Race Kembali Hancur
Sempat ada secercah harapan di sesi kualifikasi. Setelah Jumat yang cukup buruk, di mana Ferrari kelihatan menjalankan power unit baru dalam mode yang diturunkan dan para pembalapnya juga berjuang dengan apa yang disebut Leclerc sebagai “open balance” alias terlalu banyak sliding di empat roda, performa Hamilton di latihan bebas terakhir yang hanya tertinggal 0,115 detik lebih sesuai dengan ekspektasi pasca-Barcelona.
Namun begitu masuk hari balapan, masalah lama kembali muncul dengan lebih parah. Sore itu menjadi hari yang lebih sulit bagi Ferrari, dengan Lewis Hamilton hanya finis kelima setelah Scuderia ini struggle parah dengan degradasi ban.
Leclerc bahkan harus berjuang lebih keras lagi dengan daya tahan bannya hingga tergelincir ke posisi kedelapan, sementara Hamilton sama sekali tidak mampu menyalip Piastri yang berada tepat di depannya.
Telemetri Ungkap Akar Masalah
Dari sisi data, masalah Ferrari ternyata tidak melulu soal tenaga mesin semata. Ferrari justru kehilangan mayoritas waktunya di sektor dua dan tiga yang lebih teknis, sementara defisit di sektor satu yang mengandalkan top speed jauh lebih kecil.
Ini mengindikasikan bahwa selain defisit kecepatan di trek lurus, balance mobil di tikungan-tikungan menengah dan lambat khas Red Bull Ring juga menjadi sumber masalah utama yang membuat SF-26 kesulitan menjaga ritme sepanjang 71 lap.
Apa yang sempat terlihat menjanjikan di sesi kualifikasi, dengan Ferrari mengunci grid kedua dan ketiga, ternyata tidak mencerminkan kekuatan sebenarnya dari mobil mereka.
Begitu masuk kondisi balapan penuh dengan tuntutan manajemen ban di tengah cuaca ekstrem Pegunungan Styria, kelemahan mendasar Ferrari kembali tampak nyata: kombinasi antara grip yang minim, sliding berlebihan, dan degradasi ban yang jauh lebih buruk dibanding Mercedes maupun Red Bull.
Hasil ini menjadi catatan penting bagi Scuderia menjelang seri-seri berikutnya, terutama di tengah persaingan gelar juara dunia yang semakin memanas.
