BerandaMotorsportFormula 1Start P2-P3, Kenapa Ferrari Malah "Melempem" di GP Austria 2026?

Start P2-P3, Kenapa Ferrari Malah “Melempem” di GP Austria 2026?

Di atas papan, start grid GP Austria terlihat menjanjikan bagi Ferrari. Charles Leclerc start P2, Lewis Hamilton P3, keduanya di depan Verstappen dan hanya kalah dari pole man George Russell.

Tapi begitu bendera finis berkibar, Ferrari hanya membawa pulang P5 (Hamilton) dan P8 (Leclerc), tertinggal jauh dari Russell, Verstappen, dan Antonelli yang finis di tiga besar.

Berikut beberapa faktor yang menjelaskan kenapa posisi start bagus Ferrari tidak terkonversi menjadi hasil race yang setara.

1. Qualifying bagus itu sebagian “berkat keberuntungan”, bukan murni pace

Di kualifikasi, Leclerc dan Hamilton memang finis P2 dan P3 di belakang Russell, namun mereka diuntungkan oleh insiden Antonelli yang membatalkan lap terakhirnya akibat bendera kuning ganda.

Artinya, posisi start Ferrari sedikit “dipoles” oleh situasi di luar kendali mereka sendiri, bukan murni cerminan kecepatan asli mobil dibanding Mercedes.

2. Defisit race pace yang sudah terdeteksi sejak Jumat

Sinyal masalah Ferrari sebenarnya sudah terlihat sejak practice. Dalam simulasi balapan, Ferrari tercatat lebih dari satu detik per lap lebih lambat dibanding tim tercepat, sebuah defisit yang signifikan untuk sirkuit pendek seperti Red Bull Ring. Salah satu kemungkinan akar masalahnya bersifat teknis.

Ferrari diketahui memilih desain turbin yang lebih kecil untuk power unit 2026 mereka dibanding rival-rivalnya, sebuah pendekatan yang berisiko mengorbankan performa, terutama di sirkuit yang sangat mengandalkan efisiensi mesin seperti Red Bull Ring.

3. Defisit top speed di trek lurus

Data telemetri FP2 menunjukkan Hamilton dan Leclerc mencatat top speed 323 km/jam, setara dengan mobil McLaren dan Verstappen, namun tertinggal 5 km/jam dari Antonelli dan 2 km/jam dari Russell.

Mengingat Red Bull Ring punya beberapa trek lurus panjang yang krusial untuk overtaking maupun defending, defisit kecepatan ini langsung berdampak pada kemampuan SF-26 bersaing wheel-to-wheel di race.

4. Kehilangan waktu justru di sektor teknis, bukan trek lurus

Ferrari justru kehilangan mayoritas waktunya di sektor dua dan tiga yang lebih teknis, sementara defisit di sektor satu yang mengandalkan top speed jauh lebih kecil, meski sektor itu juga merupakan bagian tersingkat dari lap.

Ini mengindikasikan masalah utama SF-26 bukan cuma soal tenaga mesin, tapi juga grip dan balance mobil di tikungan-tikungan cepat khas Red Bull Ring.

5. Leclerc kehilangan rasa percaya diri pada mobilnya sendiri

Leclerc mengaku belum sepenuhnya nyaman menyerang tikungan sejak beralih ke konfigurasi rem milik Hamilton di Barcelona, dan ia tidak lagi memiliki keyakinan penuh terhadap respons mobilnya seperti sebelumnya.

Ketidakpastian semacam ini sangat mahal harganya di balapan panjang 71 lap, di mana konsistensi jauh lebih penting daripada satu lap kualifikasi yang sempurna.

6. Degradasi ban yang lebih parah dibanding rival utama

Inilah faktor yang paling menentukan hasil akhir di hari Minggu. Setelah race berlangsung, Ferrari justru tampil lebih buruk dari ekspektasi karena Leclerc terpuruk ke P8 akibat struggle berat dengan daya tahan bannya, sementara Hamilton tidak mampu menyalip Piastri dan hanya finis P5.

Bahkan secara umum, sore itu menjadi hari yang sulit bagi Ferrari karena Scuderia ini struggle parah dengan degradasi ban sepanjang balapan. Ini kontras dengan Mercedes yang justru jauh lebih efisien menjaga ban tetap hidup lebih lama.

7. Strategi ban hard yang tidak semulus rencana

Sejak awal pekan, tim sudah memperkirakan strategi dua stop akan jadi pilihan paling realistis jika safety car tidak muncul dan degradasi ban melaju lebih cepat dari prediksi, sehingga ban hard pun menjadi pilihan penting untuk stint akhir.

Namun pada hari race, Ferrari justru kalah jauh dalam soal manajemen ban dibanding rival-rivalnya, sebuah masalah yang tidak hanya dialami Ferrari karena ban hard milik Verstappen sendiri juga ikut menurun performanya di tengah panas terik Pegunungan Styria pada fase akhir balapan.

Bedanya, Verstappen masih punya cukup pace cadangan untuk mengamankan podium, sementara Ferrari benar-benar kehilangan ritme begitu masuk fase krusial ban hard.

8. Strategi agresif Hamilton justru jadi bumerang

Hamilton mencoba strategi pit lebih awal (undercut) untuk mendahului lawan-lawannya, namun stint di ban soft yang kurang maksimal di tengah cuaca terik Pegunungan Styria justru mengompromikan peluangnya untuk menang, dan ia harus puas finis P5. Ini menunjukkan tim mencoba mengompensasi kurangnya race pace murni dengan strategi, tapi panas ekstrem membuat ban soft cepat terdegradasi sehingga gamble tersebut tidak terbayar.

9. Leclerc kehilangan ritme sepanjang balapan

Leclerc, yang start mendampingi Russell di baris terdepan, justru mengalami hari yang lebih frustrasi karena tidak bisa menemukan kecepatan sepanjang balapan, hingga akhirnya hanya finis P8.

Penurunan enam posisi dari grid start adalah indikasi paling jelas bahwa keunggulan kualifikasi Ferrari tidak punya fondasi race pace yang solid.

Start bagus Ferrari di Austria lebih banyak ditopang oleh kombinasi insiden Antonelli dan satu lap kualifikasi yang “meledak” secara tiba-tiba, bukan oleh keunggulan pace sesungguhnya.

Begitu masuk ke kondisi balapan sesungguhnya, dengan tuntutan konsistensi, manajemen ban yang lebih buruk dibanding rival baik di kompon soft maupun hard, serta defisit top speed dan grip di tikungan cepat, kelemahan mendasar SF-26 kembali terlihat jelas.

Mercedes (lewat Russell dan Antonelli) serta Red Bull (lewat Verstappen) justru lebih siap mengeksploitasi kondisi race yang sebenarnya, sementara Ferrari sekali lagi terjebak antara potensi di atas kertas dan realita di trek.

Irfan
Irfanhttps://irfan.id
Seorang penulis yang aktif sejak 2011. Tumbuh dengan kecintaan mendalam terhadap dunia olahraga, ia tak pernah melewatkan satu pun laga sepak bola seru atau balapan Formula 1 yang memacu adrenalin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Jadwal Formula 1
R10 · 2026 17 Jul – 19 Jul
🇧🇪 Belgian Grand Prix
Circuit de Spa-Francorchamps  ·  Spa, Belgium
📍 50.4372, 5.9714 Lihat di Maps ↗
MY TIME 19:32
RACE (WIB) 20:00
Free Practice 1 17 Jul 18:30 WIB
Free Practice 2 17 Jul 22:00 WIB
Free Practice 3 18 Jul 17:30 WIB
Qualifying 18 Jul 21:00 WIB
Race 19 Jul 20:00 WIB
MENUJU FREE PRACTICE 1
6
HARI
:
22
JAM
:
57
MENIT
:
56
DETIK
Selanjutnya 🇭🇺 HUN 26 Jul · 🇳🇱 NED 23 Aug · 🇮🇹 ITA 06 Sep
Waktu dalam WIB (UTC+7) by Arena24.id

Populer

Klasemen F1 2026
Ronde 9
# Pembalap Poin Gap
1
Kimi ANTONELLI
Mercedes
179
2
George RUSSELL
Mercedes
154 −25
3
Lewis HAMILTON
Ferrari
147 −32
4
Charles LECLERC
Ferrari
108 −71
5
Lando NORRIS
McLaren
97 −82

Artikel Lainnya