BerandaArena 101Niki Lauda dan Tragedi yang Mengubah Wajah F1: Bukan Sekadar Soal Austria

Niki Lauda dan Tragedi yang Mengubah Wajah F1: Bukan Sekadar Soal Austria

Ia lahir dari keluarga kaya, tapi keluarganya tidak mau membiayai impiannya. Ia nyaris mati di umur 27, tapi menolak untuk menyerah. Ia pensiun karena bosan, lalu kembali dan menang lagi. Ia meninggalkan sirkuit yang paling mencintainya dan menjadi satu-satunya orang Austria yang pernah menang di Grand Prix kandangnya sendiri.

Kisah Niki Lauda bukan hanya tentang tiga gelar juara dunia. Ia adalah tentang apa yang bisa dilakukan manusia ketika tidak ada satu pun jalan yang mudah, dan bagaimana satu malam di Nürburgring mengubah Formula 1 selamanya.

Bagian 1: Anak Orang Kaya yang Tidak Diberi Uang Sepeser Pun

Andreas Nikolaus “Niki” Lauda lahir pada 22 Februari 1949 di Wina, Austria, dari keluarga kaya yang bergerak di industri manufaktur kertas. Kakek dari pihak ayahnya adalah seorang industrialis terkemuka di Wina. Di atas kertas, Lauda lahir dengan segalanya.

Kecuali satu hal: dukungan.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah, Lauda menolak tawaran ayahnya untuk masuk universitas dan bersikeras bahwa ia ingin membalap. Ayahnya tidak senang dan menolak memberikan uang.

Lauda tidak menyerah. Ia pergi ke neneknya, mendapat uang untuk membeli sebuah Mini Cooper bekas, dan mulai berkompetisi di acara hill-climbing lokal. Hubungannya dengan keluarganya menjadi dingin dan ia memilih untuk memutus kontak.

Untuk lebih mengasah kemampuannya, Lauda meninggalkan universitas dan mendaftar ke sekolah keras balap, membayarnya dengan uang pinjaman dari bank Austria. Ini bukan pilihan yang nyaman. Ini adalah pertaruhan tunggal dari seorang pemuda yang tidak punya rencana cadangan.

Dengan kariernya yang mandek, ia mengambil pinjaman bank senilai £30.000 yang dijamin dengan polis asuransi jiwa miliknya sendiri untuk membeli tempat di tim March sebagai pembalap Formula Two pada 1971. Jika ia gagal, ia akan bangkrut. Jika ia mati di lintasan, bank akan mendapat bayaran dari asuransi jiwa itu.

Tidak ada yang lebih sinis dari ini, dan tidak ada yang lebih mencerminkan karakter Lauda yang dingin dan kalkulatif dari langkah pertama kariernya.

Bagian 2: Pendatang dari BRM yang Mencuri Perhatian Ferrari

Lauda melewati tahun-tahun awal yang penuh perjuangan. March memberikannya mobil yang tidak kompetitif. Pada 1973, ia bergabung dengan tim BRM. BRM bukan tim terbaik, tapi di sana Lauda mulai menunjukkan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan: bakat yang sesungguhnya.

Meskipun tim sedang menurun, Lauda cepat. Ia bahkan sempat menempati posisi ketiga di GP Monaco, yang langsung menarik perhatian Ferrari.

Ketika rekan setim Lauda di BRM, Clay Regazzoni, kembali ke Ferrari pada 1974, Enzo Ferrari bertanya tentang Lauda. Regazzoni berbicara baik tentangnya, dan Ferrari pun merekrutnya dan membayar utang-utangnya.

Ferrari, yang tidak memiliki juara dunia sejak John Surtees pada 1964, melihat sesuatu yang berbeda dalam pemuda Austria bertampang kurus dengan gigi menonjol itu. Media mencatat pendekatan Lauda yang dingin, kalkulatif, dan klinis, dan menjulukinya “The Computer.”

Julukan itu pas. Lauda bukan pembalap yang mengandalkan insting murni seperti Gilles Villeneuve atau James Hunt. Ia menganalisis setiap detail, memberikan umpan balik teknis yang sangat presisi kepada insinyur, dan memahami mobilnya seperti seorang insinyur, bukan sekadar pengemudi.

Setelah test pertamanya di Ferrari 312 pada 1974, Lauda memberitahu Enzo bahwa mobilnya “sampah,” tapi berjanji bisa membuatnya kompetitif. Kejujuran yang brutal itu, bukan rayuan, justru yang membuat Enzo terkesan.

Pada 1975, kombinasi antara Lauda dan Ferrari 312/T menjadi tidak terbendung. Ia memenangkan lima Grand Prix di Monaco, Belgia, Swedia, Prancis, dan AS untuk meraih gelar juara dunia pertamanya, sekaligus gelar pertama yang diraih Ferrari dalam 11 tahun. The Computer telah menyelesaikan tugasnya yang pertama.

Bagian 3: Musim Panas 1976, Ketika Langit Runtuh

Memasuki musim 1976, Lauda adalah juara bertahan yang tampaknya sedang dalam perjalanan mudah menuju gelar kedua. Ia memenangkan empat dari enam balapan pertama dan memegang keunggulan poin yang besar atas rival terdekatnya, James Hunt dari McLaren. Gelar kedua berturut-turut tampak sudah pasti.

Tapi pada 1 Agustus 1976, semua itu berubah dalam hitungan detik.

Sirkuit yang menjadi lokasi GP Jerman adalah Nürburgring Nordschleife, lintasan sejauh 22,8 km yang berliku-liku menembus hutan Eifel.

Lauda sudah secara terbuka mengkritik keamanan sirkuit itu, berargumen bahwa mobil F1 modern sudah terlalu cepat untuk lintasan seperti itu. Ia bahkan mencoba mengorganisir pembalap lain untuk memboikot balapan, tapi kalah suara.

Di lap kedua balapan itu, di sebuah tikungan bernama Bergwerk, sesuatu yang hingga kini tidak sepenuhnya dijelaskan terjadi. Ferrari Lauda kehilangan kendali, membentur pagar pengaman, terpental ke tengah lintasan, dan terbakar.

Selama lebih dari enam puluh detik, Lauda terjebak dalam api, menghirup lidah api dan asap beracun jauh ke dalam paru-parunya. Arturo Merzario, Guy Edwards, dan Brett Lunger menghentikan mobil mereka dan menarik Lauda keluar dari api, mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.

Di rumah sakit, dokter menyatakan kemungkinan hidupnya sangat kecil. Seorang pastor dipanggil, dan Lauda diberikan sakramen terakhir Gereja Katolik Roma.

Istri Lauda, Marlene, yang tidak hadir di sirkuit hari itu, tiba di bandara Cologne untuk menjemput suaminya pulang, hanya untuk disambut oleh orang asing yang menyampaikan kabar buruk.

Ketika ia akhirnya tiba di rumah sakit, ia melihat ke bawah pada sebuah topeng mengerikan yang tidak ada kemiripannya dengan suaminya: wajah yang terbakar parah dan membengkak tiga kali lipat dari ukuran normal.

Bagian 4: Kembali dari Kematian, 42 Hari yang Mengubah Sejarah

Apa yang terjadi selanjutnya tidak ada presedennya dalam olahraga mana pun.

Hampir secara ajaib, Lauda bangkit dalam seminggu setelah kecelakaan dan mulai berjalan. Dalam beberapa hari, ia sudah kembali ke rumahnya di dekat Salzburg dan memulai program latihan fisik yang ketat.

Pada awal September, Lauda sudah keluar dari rumah sakit dan bersikeras untuk menguji mobil Ferrari di Fiorano sebelum kembali balapan di Monza, di hadapan Enzo Ferrari yang skeptis.

Enzo Ferrari, yang tidak pernah menjadi pemilik tim yang sentimental, adalah salah satu yang tidak mengharapkan juara dunia 1975-nya untuk kembali balapan sama sekali. Tanpa membuang waktu, ia sudah merekrut Carlos Reutemann sebagai partner baru Regazzoni.

Tapi Lauda datang ke Monza. Dengan luka bakar yang masih basah. Dengan helm yang harus dimodifikasi agar tidak menekan kulit yang masih mentah. Dengan perban yang menyerap darah setiap sesi.

Lauda menulis dalam autobiografinya “To Hell and Back”: “Saya katakan saat itu dan sesudahnya bahwa saya menaklukkan ketakutan saya dengan cepat dan bersih. Itu adalah kebohongan. Tapi akan bodoh jika saya memberi keuntungan kepada rival-rival saya dengan mengonfirmasi kelemahan saya. Di Monza, saya kaku karena ketakutan.”

Jackie Stewart mengingat momen itu: “Saya tidak akan pernah melupakan saat ia memasang helmnya dan ia sangat kesakitan. Ketika ia keluar dari kokpit di akhir sesi, saya ada di sana, dan darah mengalir keluar dari helmnya.”

Lauda menyelesaikan balapan itu di posisi keempat, hanya 42 hari setelah kecelakaan Nürburgring. Saat ia melintasi garis finis, penonton Monza berdiri dan berteriak untuknya.

Mantan manajer tim Ferrari Daniele Audetto, yang ada di sana, kemudian berkata: “Ia bukan hanya seorang juara. Ia adalah manusia yang luar biasa. Saya tidak akan pernah melupakan momen-momen itu, bahkan di kehidupan lain sekalipun.”

Bagian 5: Keputusan di Fuji, Nyawa Lebih Berharga dari Gelar

Dengan kembalinya Lauda ke lintasan, Hunt terus mengejar. Saat musim mencapai babak finalnya di Fuji Speedway, Jepang, Lauda masih memimpin klasemen, tapi selisihnya kini hanya tiga poin.

Hari balapan: hujan deras mengguyur lereng Gunung Fuji. Lintasan tertutup air berdiri. Jarak pandang hampir nol.

Mata Lauda yang rusak akibat api tidak bisa menghadapi hujan dengan baik. Kelopak matanya yang dibangun kembali tidak bisa berkedip dengan benar untuk membersihkan air dari penglihatannya. Lauda memulai balapan, menyelesaikan satu lap penuh, lalu di lap kedua ia masuk ke pit, melepas sabuk pengamannya, dan berjalan pergi.

“Nyawa saya lebih berharga dari sebuah gelar,” kata Lauda sesudahnya.

Hunt finis ketiga, cukup untuk melampaui poin Lauda. James Hunt memenangkan Kejuaraan Dunia 1976 dengan selisih satu poin.

Di Italia, beberapa orang menyebut Lauda pengecut. Enzo Ferrari meragukan kondisi mentalnya. Tapi pembalap lain, termasuk Hunt sendiri, menyebutnya sebagai tindakan keberanian: keberanian untuk mengakui batas, untuk menolak tekanan massa yang menuntut pertunjukan, untuk memilih hidup di atas trofi.

Keputusan di Fuji itu mungkin adalah keputusan Lauda yang paling manusiawi. Dan justru karena itu, ia menjadi lebih besar dari sekadar juara.

Bagian 6: Balas Dendam, Juara Dunia 1977

Bahkan Enzo Ferrari sempat meragukan Lauda dan membuat rencana untuk menggantikannya. Reaksi yang membuat Lauda marah, dan menjadikan kemenangan gelar 1977 sebagai semacam pembalasan dendam.

Lauda membuktikan dirinya sekali lagi. Musim 1977 bersama Ferrari berjalan meyakinkan, dan ia mengunci gelar juara dunia keduanya dengan dua balapan tersisa di kalender.

Lalu, dengan judul juara dunia di kantong dan sudah mengamankan gelar, ia melakukan sesuatu yang mengejutkan: ia memutuskan melewatkan dua balapan terakhir dan memberitahu Ferrari bahwa ia akan pergi. Enzo menyebutnya pengkhianat karena pindah ke tim Brabham milik Bernie Ecclestone.

The Computer tidak sentimental. Hubungannya dengan Ferrari sudah selesai, dan ia pindah ke babak berikutnya tanpa menoleh.

Bagian 7: Pensiun Pertama, “Bosan Berkendara Melingkar”

Setelah dua musim di Brabham yang menghasilkan dua kemenangan namun banyak frustrasi karena mobil yang tidak kompetitif, Lauda melakukan sesuatu yang tidak pernah diprediksi siapa pun.

Setelah sesi latihan pertama di GP Kanada 1979, ia berjalan keluar dari Formula 1 sambil berkata bahwa ia “bosan berkendara melingkar” dan kini akan fokus mengelola maskapai penerbangannya.

Tidak ada pengumuman dramatis. Tidak ada perpisahan panjang. Lauda hanya berhenti, seperti seorang insinyur yang mematikan komputer dan pulang ke rumah. Ia mendirikan Lauda Air pada 1979, maskapai penerbangan yang akan menjadi petualangan bisnis besarnya yang pertama.

Bagian 8: Kembali, dan Satu Momen di Tanah Air

Tiga tahun berlalu. Lalu, pada 1982, dunia F1 terkejut: Niki Lauda kembali. Ia menandatangani kontrak dengan McLaren senilai dilaporkan US$5 juta, kontrak paling menguntungkan dalam sejarah F1 saat itu.

Dalam negosiasi, Lauda memberitahu petinggi McLaren bahwa ia hanya menagih satu dolar untuk jasanya sebagai pembalap, dan sisanya untuk kepribadiannya.

Musim 1983 adalah tahun suram. Tapi 1984 adalah musim yang akan menjadi puncak dari seluruh cerita Lauda.

McLaren MP4/2 dengan mesin TAG-Porsche adalah mobil terbaik di grid. Tapi Lauda mendapat rekan setim yang sangat berbahaya: Alain Prost, pembalap muda Prancis yang lebih cepat dari Lauda hampir di setiap sesi kualifikasi sepanjang musim.

Dan di tengah pertarungan kejuaraan yang semakin ketat itulah, Lauda akhirnya menghadapi tanah airnya.

19 Agustus 1984. Österreichring, Spielberg.

Lauda belum pernah menang di Grand Prix kandangnya sendiri. Debutnya di F1 ada di sirkuit ini pada 1971, tapi dengan semua kejayaan yang datang sesudahnya, hasil terbaiknya di tanah air hanyalah posisi kedua yang jauh di belakang Alan Jones pada 1977.

Hari itu, Lauda start dari posisi keempat. Piquet memimpin, Prost kedua. Di tengah balapan, Prost mengalami kecelakaan setelah mobilnya tergelincir di bekas oli. Lauda naik ke posisi kedua, lalu memimpin di lap ke-40.

Tapi beberapa lap kemudian, gearbox Lauda bermasalah. Ia hampir menepi untuk berhenti ketika sebuah pikiran muncul: “Sialan, terlalu jauh untuk berjalan kaki kembali ke pit dari sini.” Ia mencoba-coba persneling, menemukan gigi tiga masih bekerja, lalu mencoba gigi lima, juga bekerja.

Ia melanjutkan balapan hanya dengan gigi tiga dan lima, memompa putaran mesin di gigi tiga sampai meraung, lalu loncat ke gigi lima. Piquet berada 17 detik di belakangnya dan terus mendekat.

Penonton di tribun Österreichring sudah berdiri. Mereka tahu Piquet pasti akan menyalip. Mereka tahu Lauda tidak bisa bertahan dengan gearbox yang rusak. Tapi The Computer memiliki satu senjata terakhir: pengalaman, ketenangan, dan kemampuan untuk memaksimalkan setiap situasi yang ada.

Piquet tidak pernah berhasil menyalip. Lauda mempertahankan posisi pertama sampai garis finis.

Kemenangan di GP Austria 1984 adalah satu-satunya kemenangan seorang Austria di Grand Prix kandangnya sendiri, rekor yang hingga kini belum dipatahkan siapa pun.

Kemenangan itu membalikkan keunggulan Prost sebesar 5,5 poin menjadi Lauda yang unggul 3,5 poin. Ia mempertahankan keunggulan itu di empat balapan tersisa, dan memenangkan Kejuaraan Dunia 1984 dengan selisih hanya setengah poin, margin terkecil dalam sejarah F1.

Lauda kemudian mengatakan: “Dari semua balapan yang menentukan kejuaraan dunia 1984 dengan satu cara atau cara lain, GP Austria adalah yang paling beruntung bagi saya.”

Bagian 9: Pamit di Rumah Sendiri

Setahun kemudian, pada GP Austria 1985, Lauda berdiri di depan mikrofon dan mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari Formula 1 untuk selamanya di akhir musim.

Ia memilih tanah airnya untuk mengucapkan selamat tinggal. Bukan Monaco yang glamor. Bukan Monza yang dramatis. Tapi Österreichring, sirkuit yang menjadi saksi debut F1-nya pada 1971, dan sirkuit tempat ia akhirnya menang di kandang sendiri hanya setahun sebelumnya.

Kemenangan terakhir dalam kariernya datang di GP Belanda 1985, ketika ia menahan serangan Prost di lap-lap akhir. Setelah pensiun dari F1 sebagai pembalap, Lauda tidak pernah benar-benar meninggalkan paddock.

Bagian 10: Warisan yang Melampaui Lintasan

Ada satu hal yang sering dilupakan ketika orang membicarakan Lauda: dampak kecelakaannya di Nürburgring bukan hanya personal. Ia mengubah Formula 1.

Kecelakaan Nürburgring 1976 menjadi titik balik yang menandai transisi menuju era F1 modern yang berfokus pada keselamatan. GP Jerman 1976 menjadi balapan terakhir yang digelar di Nordschleife penuh, dan keputusan itu menyelamatkan nyawa yang tidak bisa dihitung.

Ketika Lauda meninggal pada 2019, mantan rekan setimnya John Watson menggambarkan kembalinya Lauda ke Monza 42 hari setelah kecelakaan sebagai “tindakan paling berani dari olahragawan mana pun yang pernah saya saksikan dalam hidup saya.”

Setelah pensiun sebagai pembalap, Lauda tetap menjadi figur penting di F1. Pada 2012, ia diangkat menjadi non-executive chairman Mercedes AMG Petronas F1 Team.

Salah satu kontribusinya yang paling berpengaruh adalah meyakinkan Lewis Hamilton untuk pindah dari McLaren ke Mercedes, keputusan yang membentuk dominasi Mercedes selama satu dekade.

Dan kemudian, tubuh yang pernah bertahan dari api Nürburgring itu mulai menunjukkan batasnya. Kesehatannya menurun. Ia menjalani transplantasi ganda: dua kali untuk ginjal, dan pada 2018 untuk paru-paru yang rusak akibat kecelakaan 1976, lebih dari empat dekade setelah peristiwa itu.

Pada 20 Mei 2019, Niki Lauda meninggal dengan tenang di Zürich, Swiss, di usia 70 tahun.

Pemakaman di Katedral St. Stephan di Wina dihadiri oleh tokoh-tokoh terkemuka F1 termasuk Gerhard Berger, Jackie Stewart, Alain Prost, Nelson Piquet, Lewis Hamilton, Nico Rosberg, dan Sebastian Vettel, serta Arnold Schwarzenegger dan sejumlah politisi Austria.

Di GP Monaco 2019, seminggu setelah kematiannya, seluruh paddock mengenakan topi merah sebagai penghormatan. Mercedes mengecat perangkat halo mobil mereka menjadi merah dengan tulisan “Niki we miss you.” Hamilton memenangkan balapan itu dan mendedikasikan kemenangan itu untuk Lauda.

Epilog: Satu Topi Merah, Satu Kehidupan Penuh

Topi merah yang menjadi ciri khasnya adalah solusi praktis. Ia menutupi bekas luka terparah di kepalanya dan melindungi kulit yang rusak dari sinar matahari. Seiring waktu, topi itu menjadi salah satu simbol paling ikonik di Formula 1, dikenakan Lauda di setiap balapan, wawancara, dan penampilan publik dari 1976 hingga kematiannya pada 2019.

Di balik topi itu ada sejarah yang tidak akan pernah terlupakan: seorang anak muda yang meminjam uang dari bank dengan jaminan nyawanya sendiri, yang pernah dinyatakan hampir mati oleh dokter namun kembali balapan 42 hari kemudian, yang kehilangan gelar dengan selisih satu poin lalu kembali dan menang lagi, yang pensiun karena bosan dan kembali tujuh tahun kemudian untuk menang untuk ketiga kalinya, yang mengucapkan selamat tinggal di tanah airnya sendiri setelah akhirnya menang di rumah.

Niki Lauda tidak hanya mengubah F1 melalui kecelakaannya. Ia mengubahnya melalui cara hidupnya: cara ia mendorong batas antara keberanian dan kecerobohan, cara ia memilih nyawa di atas trofi di Fuji, cara ia mendefinisikan ulang apa artinya menjadi pembalap yang cerdas.

Tiga gelar juara dunia. Dua pensiun. Satu kebangkitan dari kematian. Satu kemenangan di tanah air. Dan satu topi merah yang tidak pernah lepas.

Itulah Niki Lauda.

Sumber: Wikipedia, Formula1.com, McLaren.com, MotorSportMagazine.com, PlanetF1.com, F1Chronicle.com, Britannica

Irfan
Irfanhttps://irfan.id
Seorang penulis yang aktif sejak 2011. Tumbuh dengan kecintaan mendalam terhadap dunia olahraga, ia tak pernah melewatkan satu pun laga sepak bola seru atau balapan Formula 1 yang memacu adrenalin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Populer

Artikel Lainnya