FIA dijadwalkan menggelar pemungutan suara pada 26 Juni di Macau untuk memutuskan nasib sebuah proposal yang berpotensi mengubah wajah kepemimpinan federasi otomotif dunia ini untuk jangka panjang: penghapusan batas masa jabatan presiden FIA.
Jika disetujui, Mohammed Ben Sulayem (64) berpotensi terus menjabat sebagai presiden tanpa dibatasi oleh ketentuan 12 tahun yang berlaku saat ini.
Aturan yang Ingin Diubah
Berdasarkan Pasal 20.10 statuta FIA, presiden tidak boleh menjabat lebih dari tiga periode, baik berurutan maupun tidak, atau setara maksimal 12 tahun masa jabatan.
Aturan ini diberlakukan oleh pendahulu Ben Sulayem, Jean Todt, yang menjabat penuh tiga periode antara 2009 hingga 2021.
Ben Sulayem sendiri kini berada di periode kedua kepemimpinannya setelah terpilih kembali tanpa lawan pada akhir 2025, sebuah hasil yang menuai kontroversi karena calon-calon penantang seperti Carlos Sainz Sr. dan eks steward FIA Tim Mayer gagal memenuhi syarat administratif untuk maju ke pemilihan.
Persyaratan itu mengharuskan setiap kandidat menyertakan tujuh wakil presiden dari berbagai kawasan, namun satu-satunya calon wakil presiden yang disetujui dari Amerika Selatan, Fabiana Ecclestone, telah lebih dulu menyatakan dukungannya kepada Ben Sulayem.
Pihak FIA, melalui juru bicaranya, menyebut proposal ini sebagai upaya menyelaraskan aturan masa jabatan di seluruh badan FIA, mengikuti pola yang sudah berlaku di World Councils dan Senate.
Namun ketika ditanya BBC Sport mengapa pilihannya adalah menghapus batas masa jabatan sepenuhnya, bukan justru menambahkan batasan pada posisi yang sebelumnya tidak memilikinya, pihak FIA tidak memberikan jawaban spesifik.
Soal Batas Usia 70 Tahun
Selain batas masa jabatan, statuta FIA saat ini juga mensyaratkan kandidat presiden berusia di bawah 70 tahun pada hari pemilihan, aturan yang sebelumnya menetapkan batas usia 75 tahun.
Proposal yang akan dibahas di Macau dilaporkan berfokus pada penghapusan batas tiga periode, tanpa menyentuh ketentuan usia tersebut.
Namun, sejumlah laporan media motorsport menyebut adanya sumber yang mengetahui rencana Ben Sulayem untuk pada akhirnya juga menghapus batas usia ini di kemudian hari, sebuah langkah yang oleh sejumlah pengamat ditafsirkan sebagai upaya membuka jalan baginya untuk menjabat tanpa batas waktu sama sekali.
Klaim ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh FIA, dan sejauh ini belum ada proposal formal terkait perubahan batas usia yang diajukan ke agenda General Assembly.
Dukungan Kuat, Kritik Tak Kalah Keras
Proposal penghapusan batas masa jabatan ini diperkirakan akan disahkan, mengingat dukungan kuat yang dimiliki Ben Sulayem terutama dari organisasi anggota FIA berskala lebih kecil.
Sepanjang 2024 dan 2025, sejumlah pejabat senior FIA yang mengkritik kepemimpinannya, termasuk eks CEO Natalie Robyn, kepala komite audit Bertrand Badre, dan Tim Mayer, diberhentikan dari posisi mereka.
Mayer, yang sempat gagal maju sebagai penantang Ben Sulayem, menyebut batas masa jabatan bukan sekadar detail birokrasi, melainkan pengaman fundamental tata kelola yang baik, penting untuk mencegah konsentrasi kekuasaan di tangan satu pihak.
Ia turut menyinggung contoh mantan Presiden Komite Olimpiade Internasional, Thomas Bach, yang justru menolak kesempatan memperpanjang masa jabatannya sendiri di luar batas 12 tahun.
Ben Sulayem sendiri sebelumnya tidak menutupi keinginannya untuk terus memimpin FIA. Usai terpilih kembali, ia menyatakan bahwa waktu tiga periode dirasa belum cukup untuk memimpin federasi yang kompleks seperti FIA.
Konteks yang Lebih Luas
Kepemimpinan Ben Sulayem sejauh ini diwarnai sejumlah kontroversi, mulai dari sanksi terhadap pembalap F1 Charles Leclerc dan Max Verstappen karena mengucapkan kata-kata kasar dalam konferensi pers, yang memicu protes terbuka dari Grand Prix Drivers’ Association, hingga gugatan hukum dari calon presiden FIA Laura Villars terkait proses pemilihan tahun lalu.
Selain isu masa jabatan, dua perubahan statuta lain juga akan dibahas dalam General Assembly mendatang: persyaratan baru yang mewajibkan calon presiden memiliki pengalaman di dalam badan atau anggota FIA, serta perpanjangan tenggat waktu pengajuan daftar lengkap calon wakil presiden dari 49 hari menjadi 100 hari sebelum pemilihan, perubahan yang oleh sejumlah pihak dinilai justru akan makin mempersulit munculnya penantang baru di masa depan.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan BBC Sport, Motorsport.com, RacingNews365, GPblog, dan Read Motorsport menjelang sidang FIA General Assembly di Macau pada 26 Juni 2026.
