Lewis Hamilton menanggapi dengan santai perubahan drastis nada pemberitaan media terhadap dirinya, menyusul kemenangan perdananya bersama Ferrari di GP Barcelona bulan lalu.
Berbicara dalam sesi media day menjelang GP Austria, pembalap tujuh kali juara dunia ini mengaku menemukan situasi tersebut cukup mengejutkan, namun memilih untuk tidak terlalu memusingkannya.
Dari Diragukan Menjadi Dipuji
Hamilton menyoroti betapa cepatnya opini publik berubah begitu hasil di lintasan ikut berubah.
Pembalap asal Inggris ini sebelumnya kerap menjadi sasaran spekulasi soal usia dan kemampuannya yang dianggap menurun, narasi yang sempat ramai sejak musim lalu, bahkan ketika ia masih berstatus rekan setim George Russell di Mercedes pada 2024.
Kini, setelah tampil dominan dalam beberapa balapan terakhir dan mencatatkan kemenangan bersejarah di Barcelona, nada pemberitaan terhadap dirinya berbalik seratus delapan puluh derajat.
Hamilton menyebut perubahan sikap media itu sebagai sesuatu yang ia perhatikan, tapi tidak benar-benar ia ambil hati.
Baginya, dukungan dari para penggemar yang telah mengikuti perjalanannya sejak awal jauh lebih bermakna dibanding bagaimana narasi media berubah-ubah seiring hasil di lintasan.
Fokus pada Realitas Persaingan Gelar
Soal peluangnya di perebutan gelar juara dunia musim ini, Hamilton tampil dengan sikap yang tenang dan realistis.
Ia menegaskan sudah pernah melalui situasi serupa sebelumnya dalam kariernya yang panjang, sehingga tahu betul apa yang harus dilakukan ke depan.
Hamilton juga mengingatkan bahwa musim masih panjang, mengisyaratkan bahwa satu kemenangan di Barcelona belum cukup untuk menjadi indikator pasti arah perebutan gelar.
Kemenangan Bersejarah di Barcelona
Kemenangan Hamilton di Barcelona bulan lalu memang sarat catatan statistik. Pada usia 41 tahun 158 hari, ia menjadi pembalap tertua yang menang sejak kemenangan Jack Brabham di GP Afrika Selatan 1970, sekaligus salah satu dari segelintir pembalap yang pernah menang di usia 40-an dalam sejarah F1.
Kemenangan itu juga menandai jeda 19 tahun 4 hari sejak kemenangan pertamanya, rentang waktu antarkemenangan terpanjang dalam sejarah olahraga ini, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang Kimi Raikkonen dan Michael Schumacher.
Hasil tersebut turut mengantarkan podium All-British pertama sejak 1968, dengan Russell finis kedua dan Lando Norris di posisi ketiga, sekaligus memangkas jarak Hamilton dengan pemuncak klasemen, Kimi Antonelli, yang gagal finis akibat masalah keandalan power unit di laga itu.
Menatap Austria dengan Kepala Dingin
Pernyataan Hamilton ini sejalan dengan komentar Russell di sesi media day yang sama, yang menyebut kebangkitan Hamilton dan Ferrari sebagai ancaman nyata bagi persaingan gelar musim ini.
Namun Hamilton sendiri tampak ingin menjaga ekspektasi tetap realistis, mengakui kemajuan timnya, tanpa terburu-buru mengklaim dirinya sudah menjadi favorit utama perebutan gelar.
